Menjadikan Islam Sebagai Mab'da Kehidupan
Tampilkan postingan dengan label karya alfajarillah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya alfajarillah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juni 2012

Karena Allah Menyayangimu

"...Karena Allah menyayangimu, Ia menciptakanmu.
Karena Allah menyayangimu, Ia titipkan amanah langit di bahumu
Karena Allah menyayangimu, Ia percaya dirimu mampu
Percayalah, karena Allah menyayangimu, Ia ciptakan air mata untukmu
Karena Allah menyayangimu, Ia ciptakan orang sekitarmu tersenyum untuk menguatkanmu
Semua takkan terjadi, kecuali karena Allah Menyayangimu..."
-Multazimah Mumtaz,  ditulis kala air mata seharmonis nada air hujan. :)
# # #

   "..aku hanya seorang remaja biasa, hingga akhirnya aku merasa Dia memelukku dengan cintanya dan mengubah separuh jalan hidupku.." Jemari Hanin yang sedari tadi menarikan pena mendadak terhenti, suara ketukan di pintu kamarnya membuat ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk karena menulis di meja belajarnya.
   "Dik, aku boleh masuk?" Suaranya khas, itu suara Laila, kakak satu-satunya Hanin.
   "Masuk aja, kak. Gak dikunci kok." jawab Hanin agak sedikit dingin.
   Perlahan Laila memasuki kamar Hanin, lalu duduk di tepian kasur. Hatinya bergemuruh tak keruan. Keheningan tak kunjung terpecah sejak ia melangkah masuk ke kamar adik semata wayangnya itu."Dik.. Kamu gapapa kan?" Tanya Laila, lembut. 
   "Menurut kakak?" Jawab Hanin dengan agak ketus.
   "Dik, aku ngerti perasaanmu.."
   "Kakak nggak ngerti apapun tentang aku, termasuk perasaanku!" Potong Hanin tanpa menunggu kalimat laila terselesaikan.
   "Dik.."
   "Keluar! Dan jangan ganggu aku!" bentak Hanin pada  Laila. Laila menurut, air matanya terjatuh saat pintu kamar Hanin ditutup kasar.Hanin terduduk bersandar pintu, air matanya tak urung ikut terjatuh, tulisannya tadi ia sobek paksa dari buku lalu ia remas remas dan akhirnya mendarat manis di tempat sampah.


~Keesokan Pagi~
Laila's Side


   "Dik, sarapan dulu, baru berangkat sekolah." Ujarku saat meliat Hanin menuruni tangga. Jaket bertudung warna biru dongker favoritnya menutupi kepalanya yang terbalut kerudung. Bola basket oranye hitam melompat-lompat mengikuti gerakan tangannya.
   "Gak lapar." Jawab Hanin sambil tetap memantulkan bola basketnya.
   "Tapi kamu harus tetap sarapan, dik. Nanti kalo kamu.." Ucapanku menggantung tanpa terselesaikan.
   Hanin tetap melangkah keluar. "Berangkat, kak. Assalamu'alaikum."
   "Wa'alaikumsalam." Jawabku sambil menghembuskan nafas.


   Hari ini kuliahku kosong, setidaknya aku punya cukup waktu untuk lebih mengenal siapa adikku itu. Akupun melangkah ke kamarnya. Hanin. Nama yang sebetulnya sangat kurindukan. Kamar Hanin tak terkesan kamar seorang akhwat, apalagi kalau sudah SMA seperti dirinya. Hanin ternyata tak seperti namanya, stik baseball, mobil R/C, miniatur mobil. Aku yakin takkan ada yang mengira ini kamar seorang akhwat seperti dirinya. 
   Pandanganku beralih ke rak bukunya. Hmm, lima belas tahun tak bertemu membuatku terkesima akan tingkah lakunya. Sastra?! Hal yang langka di keluarga kami yang rata-rata politikus dan pengusaha. Kedua kakekku adalah pengamat hukum, sementara nenek dari papa adalah seorang pengusaha, dan nenek dari iu adalah seorang aktivis sosial yang juga memiliki beberapa usaha. Tak tahu darimana darah sastra Hanin mengalir, aku kembali tercengang. sebuah buku harian!! Dengan cover hitam bergambar siluet kucing warna putih. Aku gemetar memegangnya, hatiku mengatakan untuk membacanya, namun nuraniku masih menolak. 
   "Hanin, lima belas tahun tak bertemu, membuatku tak mengenali kalau kau adikku, dik. Bahkan aku tak ingat aku memiliki adik. Usiamu yang hanya terpaut lima tahun dariku membuatku belum bisa mengingat dengan begitu kuat. Maafkan aku ya, dik." gumamku. Air mataku menetes. Tekadku bulat, aku akan membaca buku harian Hanin. Namun..
   "Kriiingg.." telepon rumahku berbunyi. Segera aku menjawabnya. "Halo, Assalamu'alaikum."

   "Wa'alaikumsalam, dengan saudaranya ananda Hanin?"
   "Ya, saya kakaknya. Ada apa ya?"
   "Kami dari pihak rumah sakit, adikmu sedang dirawat di RS al-Khair karena kecelakaan. Ia ditabrak lari oleh mobil. Bisa anda segera kesini?"
   "Innalillah, baik, saya akan segera kesana. Assalamu'alaikum."
   "Wa'alaikumsalam."
   Aku kalut, pikiranku tak tentu arah. Dengan bergegas aku mengambil kunci mobil peninggalan papa dan mengemudikannya menuju rumah sakit yang dimaksud.


  *R.S Al-Khair.*


   Dengan setengah berlari aku memasuki rumah sakit. Gamis hijau muda dengan balutan kerudung warna senada yang kupakai sedikit berkibar. Tujuanku meja informasi, tapi dimana? Ya, disana rupanya. Wajahku pucat pasi saat hendak menuju meja informasi, sebuah bangsal berisi pasien yang berlumuran darah melintas tepat didepanku. Pasiennya seorang perempuan dengan balutan seragam putih abu-abu berlapis jaket biru dongker! Hanin! Jantungku berdetak tak keruan saat melihatnya. Dia Hanin, adikku.Adik yang baru kutahu setelah lima belas tahun dari surat yang papa tulis sebelum menyusul kepergian mama karena kanker rahim yang diidapnya.Adik yang diadopsi orang setelah mama melahirkan karena kondisi ekonomi kami yang saat itu sedang kacau, krisis moneter kala itu penyebab perusahaan papa bangkrut.
   Bangsal itu menuju ICCU. Air mataku tumpah, tanpa sadar aku berteriak menyebut nama adik semata wayangku itu.




# # #


   Buku harian Hanin masih kupegang, disisiku Hanin masih belum sadar, bajunya telah terganti dengan baju pasien. Kepalanya tak lagi terbalut kerudung putih yang biasa ia kenakan. Rambutnya yang panjang terurai dengan perban yang melingkari kepalanya. Wajahnya pucat pasi. Aku menatap wajahnya lama. Itu wajah yang sama denganku, mata yang sama denganku yang kini terpejam. Ah, kami mirip. Jelas, ia adik kandungku, adik yang luar biasa di mataku, adik yang harus dikorbankan demi hidupku. Adik yang harus kutemukan kembali untuk membayar hutang budiku, papa juga mama. 


Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Allah, kenapa harus sekarang? Setelah lima belas tahun aku bersama Ummi dan Abi, kenapa baru sekarang Engkau ungkap rahasia yang begitu besar dalam hidup hamba? Kenapa baru Kau buka hati mereka tentang kehadiranku  setelah mereka pergi? Kenapa Engkau tak sempatkan hamba mencium tangan mereka? Mereka, papa dan mama kandungku, ya Allah. Seharusnya hamba berbakti pada mereka, mendo'akan mereka dalam tiap do'a syahdu dalam malam yang melarut. Allah, apakah hamba bisa menyayangi mereka sebagaimana hamba menyayangi Ummi Abi hamba yang telah membesarkan hamba? Apakah hamba bisa menerima Ka Laila sebagai kakakku sebagaimana hamba menganggap Mas Fadhly, Mas Arifin, dan Mas Ilyas sebagai abangku?
Allah, ini sulit, namun, mudahkanlah. Ini berat, namun, ringankanlah. Hamba ingin berbakti pada mereka, untuk membayar pengorbanan mama dalam merawat hamba kala dalam perutnya, mebayar letihnya mama dalam senyuman setelah berjuang antara hidup dan mati dalam melahirkan. Allah, hamba memang tak bisa mencium tangan mama dan papa hamba, namun tolonglah bayarkan kerinduan hamba atas sosok yang hamba rindukan. Engkau Maha Adil ya Allah, jadikan do'a hamba adalah do'a yang melantun untuk Abi dan Ummi, mas Fadhil, mas Arifin, mas Ilyas juga untuk papa dan mama serta Ka Laila. Aamiin.
#######


    Air mataku mengalir deras, do'a tulus dari seorang anak yang ikhlas dikorbankan, meski tak seperti Ismail yang harus disembelih Ibrahim, ayahnya sendiri. Aku menatap Hanin, ia masih terlelap dalam koma-nya. Aku membuka halaman yang terselip pembatas, halaman terakhir yang ia tulis.


#######
Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
 Allah, menganggap seseorang menjadi seorang kakak itu sulit. Hamba sudah mencoba menerima Ka Laila dengan tulus ikhlas, tapi nyatanya hamba masih tak mampu. Hamba belum ikhlas menerima semua kenyataan ini, hamba masih merindukan bermain basket bersama abang-abang hamba, hamba masih rindu dipeluk Ummi, hamba masih rindu pujian Abi. Hamba rindu curhat dengan Ummi dengan diselipkan kata kata bijak ummi dalam tiap candanya.
Allah, hamba merasa bersalah dengan Ka Laila, Ka Laila sudah mencoba menjadi pengganti papa dan mama, tapi hamba belum bisa  menerimanya. Hamba sering membentak Ka Laila, mengabaikannya dan melakukan tindakan kasar padanya, tapi Ka Laila tetap sabar. Mungkin Ka Laila benar benar bisa merasakn perasaanku.
Harusnya hamba bersyukur, hamba punya papa dan mama (meski mereka telah Kau panggil) dan hamba juga punya Abi dan Ummi (yang selalu menganggap hamba anak mereka), hamba punya Mas Fadhli, Mas Arifin dan Mas Ilyas (yang terkadang suka mengusili hamba) dan hamba juga punya Ka Laila (yang selalu berusaha memahami hamba). Hamba seharusnya bersyukur, ini amanah langit yang Engkau percayakan pada hamba untuk memikulnya, Engkau percaya bahwa bahu hamba akan kuat menahan amanah ini. Air mata ini, tanda Engkau menyayangi hamba. Dan.... Engkau kirimkan orang orang yang selalu tersenyum untuk menguatkan hamba :)
Ini amanah dari-Mu, dan hamba yakin, hamba bisa menjadi hamba-Mu yang berguna bagi mereka. Mereka semua yang menyayangi hamba. 
 #######


     Air mataku banjir kembali untuk yang kesekian kalinya. Menjadi seseorang yang memiliki dua keluarga yang sama sama menyayanginya memang berat, dituntut untuk bersikap adil. Tapi ini bukan atas kemauannya, tapi atas keikhlasannya menjadi seorang hamba Allah. 




    "Kak... maafin Hanin ya, Hanin janji akan menyayangi Ka Laila tanpa membedakan dengan abang-abang Hanin.." Ucap Hanin kala ia terbangun dari komanya dan melihatku menangis.


    Aku Menyayangimu, adikku. Karena Allah :)




##############################################################################









cerpen ini dibuat untuk hiburan semata, kejadian, tokoh, nama atau apapun yang sama yang menjadi unsur cerpen ini bukan karena disengaja, maaf kalau ada kata-kata yang meyinggung atau membuat pembaca sakit hati. Jazakumullah Khairan Katsiran.

salam beriring do'a

Jelang Fajar Ilahi (alFajarillah)
»»  READMORE...

Senin, 12 Maret 2012

Maulid Oh Maulid


Maulid Oh Maulid


            Besok maulid, perayaan maulid di SD adikku. Katanya berbagai lomba akan digelar di sana. Dan adikku ingin sekali mengikuti salah satu lombanya “Peragaan busana muslim”.
            “Kak, besok  empat hari lagi disekolahku ada maulid.” Katanya padaku dengan senyumnya.
            “Lalu?”
            “Aku mau ikut lomba di acara maulidnya, kak. Lomba peragaan busana muslim.”
“Kamu mau pakai baju apa? Bukankah pakaianmu sudah kurang bagus? Lagipula kalaupun beli itu kan tak mungkin.”
“Aku mau minta sama ummi aja deh,” dan iapun mengatakan niatnya pada ummi. Dari kejauhan, engkau mengangguk, ummi. Kulihat pada gerakan kepala muliamu itu, ah, aku tak dapat melihat, namun hatiku mampu merasakan. Ummi.. empat hari bukanlah waktu yang panjang untuk mencari uang untuk sekedar membeli gamis baru untuk adik, atau bahkan sekedar menjahitnya. Membeli? Makanpun hanya dengan nasi dan lauk yang dibagi tiga, bagaimana mau membeli? Andai abi....

Siang itu juga kau menuju pasar, ummi. Menanyakan harga gamis manis berenda dengan warna cokelat muda itu. Seratus tujuhpuluh lima ribu kata sang penjual dan kau hanya tersenyum lalu pamit, dengan tangan hampa kau menuju rumah. Air matamu tertahan saat kau melihat si adik, terganti senyummu. Ah, ummi, bahkan engkau masih sanggup tersenyum saat seharusnya engkau mengurai air mata dan menangis.

Malamnya, aku melihatmu melalui mata hatiku. Kau membongkar tabunganmu, menghitungnya. Seratus ribu, gumammu, dengan gumaman yang mengiris batinku. Petang tadi, engkau hanya makan sesuap nasi putih, telur dadar hambar tanpa garam yang dibuat olehmu hanya dibagi dua untukku dan adik. Satu berdua.
Seusai menghitungnya, kau keluar dan membasuh beberapa organ tubuhmu, berwudhu. Lalu masuk kembali untuk menunaikan enam rakaat shalat tahajjud yamg dilanjut tiga rakaat witir dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Kau tangguh, namun hatimu begitu suci untuk mengaku lemah dihadapan-Nya.

Jam masih menunjukkan pukul tiga dinihari. Kau telah terbangun untuk memasak makanan yang akan kau jual. Mencuci pakaian yang semalam dititip tetangga untuk kau cucikan. Dan terakhir, pukul lima subuh, kau telah bersiap menjadi buruh di pasar tradisional yang berjarak hampir empat kilometer dari rumah dengan berjalan kaki. Ya ummi, tak sanggup aku membayangmu. Andai ada hal yang mampu kulakukan...
Siangnya tak lantas kau diam, engkau menyeterika pakaian tetangga yang telah kau cuci. Lalu mengantar ke rumahnya, mengetuk pintunya sampil membawa pakaian yang telah tertumpuk rapi, dan berdo’a, berharap Allah menitipkan rezeki-Nya melalui perantara hamba-Nya sedikit lebih banyak dari biasanya. Kau lupa akan makan dan minummu, bagimu, nafas sudah lebih cukup dari apapun, nafasmu adalah do’amu, do’a untuk anak-anakmu yang terkadang justru sering merepotkanmu, tak mungkin—katamu—mampu hidup tanpa bernafas. Yang kau ingat hanya ingin membahagiakan anak-anakmu dan mencurahkan cintamu pada-Nya.
Malamnya, seperti sebelum-sebelumnya, telur dadar hambar yang dibagi dua untukku dan adik, dan hanya sesuap nasi yang kau makan dengan alasan ‘Ummi tidak lapar, nak’.


Hari demi hari seakan berlangsung begitu saja, hanya meninggalkan serpihan-serpihan keletihan di wajah muliamu, ummi. Uangmu, untuk pagelaran busana itu, masih kurang, ummi. Bahkan kau menunda untuk membayar kontrakan kita, demi mengukir senyum di wajah anakmu. Ummi...
Bukankah hari ini adalah hari ketiga? Besok sudah pagelaran busana itu, ummi. Sudahkah uangmu terkumpul untuk mengukir senyum di wajah adik?  Sudahkah engkau bersiap mengurai senyum berair mata bahagia atas senyum anak terakhirmu, anak yang fisiknya tak kurang suatu apapun? Anak yang engkau kandung di rahimmu selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan perjuangan antara dunia dan akhirat?
Kau hitung lagi uang tabungan yang kau kumpulkan, jumlah yang masih sangat kurang jika engkau tidak meminta keringanan harga pada si empunya toko. Kau menggenggam uang hasil tetes peluhmu dan berjalan penuh semangat menuju toko yang telah kau janjikan tiga hari yang lalu. Senyummu merekah, membayang wajah gembira si adik. Tapi, apa yang kau dapatkan? Gamis impian adik telah terjual! Nyaris kau luruh ke tanah. Hatimu retak, senyum si adik mendadak terhapus dari anganmu. Hasil jerih payahmu—untuk gamis murah dan bagus satu-satunya itu, gamis impian anak bungsumu—sirna sudah. Air matamu nyaris menetes, ummi. Wahai ummi, tersenyumlah. Genggam tanganku untuk membantumu berdiri.
Semangatmu kembali. Kau tak lantas menyerah. Kau sambangi toko kain, membeli kain panjang berwarna cokelat muda, warna yang begitu manis dan sederhana. Kau pandai memilih, ummi. Kau lantas pulang, menuju mesin jahit tua peninggalan abi. Memotong kain  dan mulai menjahitnya, air matamu terurai, ummi. Siang berganti petang, tak ada jeda bagimu untuk berhenti dan beristirahat selain tur spiritual untuk berbicara pada Allah melalui do’a-do’a di setiap sujud panjangmu dalam shalat yang penuh kesyahduan. Tak ada kata makan dan minum menurutmu saat engkau menjahitnya. Mendadak kau terbatuk, ummi. Tanganmu menggenggam darah bercampur dahak. Kau sakit ummi? Apakah itu akibat terlalu seringnya udara malam menyambangimu? Kau sakit, dan selama ini kau sembunyikan dariku? Ummi, maafkan anakmu yang tak seperduli engkau padaku.
Tapi, batuk itu tak menghentikanmu, ummi. Engkau terus menjahit, walau batuk itu berkali-kali datang dan berkali-kali juga darah itu terurai. Berkali-kali pula mesin jahit tua itu berulah merepotkanmu, tapi tak terdengar sedikitpun keluhan darimu, yang ada hanya beberapa nama-Nya melantun dari mulutmu yang begitu mulia. Ah, ummi..
Malam telah larut, dan kau masih terjaga untuk menyelesaikan gamis yang tiap jahitannya tersurat cintamu, untuk anak bungsumu. “Sudahlah, mi, ada baiknya ummi tidur dulu.” Ujarku. Namun, kau menjawabnya dengan halus. “Tanggung kak, sebentar lagi.” Tak terasakah lelah yang menumpuk di bahumu? 
Adzan subuh berkumandang, tepat saat kau menyelesaikannya. Seusai shalat subuh, kaupun rehat. Kau memintaku untuk menunjukkan gamis—yang kuyakin indah—itu pada adik, kau berkata, kau begitu lelah dan harus beristirahat. Adikku terbangun, dan minta ditunjukkan gamis yang ia minta untuk peragaan busana itu. “Kak, gamisnya mana?” tanyanya. Aku menyerahkan gamis jahitan ummi padanya, dengan senyum dan kemantapan hati. Ia meraihnya, dan membolak-baliknya. Aku tersenyum, aku yakin adik akan suka. Itu gamis dengan semangat terbaik seorang ibu, dik.
“Apaan nih?” nada suaranya terlihat kecewa, bahkan marah.
“Itu gamis yang dijahit ummi untukmu. Bukankah itu adalah gamis yang indah?”
“Apanya? Apanya yang indah? Kau buta karena itu kau tak bisa membedakan mana yang indah dan mana yang amburadul.”
Dia menyebutkan kekuranganku. Aku memang tak sesempurna dirinya, aku cacat, dan ummi sendiri tak mempersoalkan hal itu. Aku tak tahu apa itu indah, bagiku, perjuangan ummi adalah yang terindah. Apakah itu salah?
Jam menunjukkan pukul 6, dia menghina gamis itu tapi dia tetap menggunakannya. Aku yakin, dia cantik. Dia lebih dari sekedar cantik. Dia akan terlihat begitu manis. Do’aku menyertainya. Dan diapun berangkat.
Aku membangunkanmu, ummi. Tapi engkau masih terlelap dalam tidurmu. Apakah itu adalah mimpi yang panjang nan indah? Akupun membiarkanmu beristirahat, tidurmu begitu lelap, ummi. Ah, andai aku dapat melihat wajahmu yang mulia itu.
Sebelum dzuhur, adik pulang. Dari jauh aku mendengar teriakannya memekik, menyebut panggilanmu, ummi. Ia menjuarai lomba itu! Juara atas gamismu, gamis yang dibuat penuh cintamu. Takkah kau bangga, ummi? Ummi? Apakah kau tak hendak terbangun dan melihat senyum anak bungsumu yang kini bersimpuh dihadapanmu? Bersimpuh untuk mengucap terimakasihnya padamu. Lihat senyumnya, ummi..
“Kak, ummi.. apakah ia tak mau bangun?” tanyanya padaku.
Sebentar, sepertinya aku mengetahui arah ucapannya. Maksudnya kau telah.. Ummi? Bangunlah, lihat senyumnya. Ummi, bangunlah, jangan terbuai mimpi, kami membutuhkanmu, ummi. Ummi tolong, tanganmu dingin, ummi..
Aku terkesima, lengkingan jerit adikku menyadarkanku...



“Ummi, tunggu aku di surga-Nya. Aamiin.”









Catatan kecil: Cerpen ini didedikasikan untuk seseorang yang merupakan tokoh utama di cerpen ini dan juga untuk para pengambil pelajaran. Kisah ini nyata, sebuah kejadian dari seorang sahabatku, saudaraku sesama muslimah yang kini juga telah berpulang. Untuk saudaraku, syukran atas sebuah kisah yang Insya Allah, pelajarannya dapat diambil semua pembaca, dan afwan, kisah ini kutulis bukan untuk menunjukkan kehidupanmu, aku mengambilnya untuk media dakwah, seperti cita-citamu. Semoga Allah mempertemukanmu dengan abi ummimu di surga-Nya.
Salam beriring do’a,
alFajarillah.
(Jelang Fajar Ilahi)
»»  READMORE...

Jumat, 10 Februari 2012

Surat Cinta Untuk Ummi

Bismillah..

Ummi, kutitipkan sepenggal rindu pada-Nya
Telahkah Ia menyampaikan melalui desau angin?
Atau melalui segulung ombak di laut?

Ummi, telah kutitip do'a selaksa cahaya untukmu pada-Nya
Adakah Ia menyampaikan melalui bulan yang bersinar lembut?
Atau Ia telah menyampaikannya melalui gemitang yang gemerlap?

Ummi, telahkah engkau tahu?
Rinduku hanya bagai sehelai rumput ditengah keras dan keringnya tanah di padang savana
Namun, rinduku takkan tumbang, ummi
Meski badai menerjang, meski panas menggersang
Karena haus akan air kasihmu yang laksana hujan

Ummi, apakah engkau tahu?
Ketika kasihku dan kasihmu menyatu, bertemu dan berpadu
Aku tak sadar kalau aku sedang mencintaimu
Tapi, kala engkau menjauh...
Baru terasa serpihan rindu merasuk kalbu
Sepi terasa menghunjam, menelisik hatiku

Ummi, tak dapat apa 'kan kuberi
Hanya sepenggal ayat surat cinta-Nya pengobat rinduku padamu
Dengan do'a di setiap penghujung waku




Ummi, aku mencintaimu....
dan kini aku rindu.....
»»  READMORE...

Sabtu, 14 Januari 2012

Aku Mau Ummi Jadi...

Aku mau ummi jadi bunga
yang indah dan harum wanginya
Tapi jangan deh
kalau ummi jadi bunga, siapa yang anter aku ke sekolah?

Aku mau ummi jadi kupu-kupu
yang bagus dan cerah warnanya
Tapi jangan deh
kalau ummi jadi kupu-kupu, siapa yang akan ngejagain aku?

Aku mau ummi jadi matahari
yang menyinari bumi
Tapi jangan deh
kalau ummi jadi matahari, siapa yang nanti meluk aku saat aku sedih?

Aku mau ummi jadi bulan
yang menerangi malam kelam
Tapi jangan deh
kalau ummi jadi bulan, siapa yang bacain aku doa sebelum tidur?

Aku mau ummi jadi bintang
yang terang saat gelap
Tapi jangan deh
kalau ummi jadi bintang, siapa yang nemenin aku sampai mimpi?

Kalau gitu, aku mau ummi jadi ummiku aja
karena ummi ngga harus jadi bunga, kupu-kupu, atau matahari
ummi juga ngga harus jadi bulan atau bintang
yang penting ummi bisa anterin aku kesekolah dan jagain aku
aku juga bisa meluk ummi saat aku sedih
aku juga mau ummi yang bacain do'a sebelum tidur buat aku
dan nemenin aku sampai aku bermimpi

Aku Sayang Ummi
I love Ummi








*catatan: ini pernah dimuat di notesku di Facebook, sama seperti "Hujan"
»»  READMORE...

Hujan

Bulir-bulir air menetes deras
Membasahi tiap jengkal tanah gersang meranggas
Ribuan, Bahkan jutaan ribu

Tak terhitung, itu yang kutahu
Seperti Rahmat-Nya
Bagi setiap hamba-Nya

Hujan adalah Rahmat, itu kata ustadz
Hujan adalah Nikmat, itu pula kata ustadz
Tapi kata mereka, hujan itu laknat
Banjir disebut Kiamat
Menyumpah serapah dan mengumpat

Lupakah mereka, bahwa Ia sesempurnanya Dzat
Apapun yang Ia beri adalah nikmat

Tapi, berfikirkah mereka?


“saat hujan menyirami hati, gerimis pun menjadi introspeksi diri”

 alFajarillah
“memberikan 'cahaya' lewat goresan pena dan ketikan kata.”

15 September 2011
»»  READMORE...